Photobucket

Selasa, Juni 23, 2009

Alun-alun Lor (SOLO)

Alun-alun Utara memiliki fungsi, antara lain:

1. Tempat berkumpul prajurid pada saat akan berangkat perang.
2. Tempat berkumpul rakyat kerajaan pada saat mendengarkan pengumuman pengumuman penting atau Undang-undang dari Raja.
3. Tempat untuk latihan perang.
4. Tempat rampokan (aduan hewan dengan hewan atau dengan manusia).
5. Tempat rakyat jelata ataupun sentono dalem dan abdi dalem melakukan topo pepe (duduk diam diantara dua pohon beringin ditengah alun-alun, untuk dapat dilihat dan dipanggil menghadap raja, sebagai upaya mencari keadilan langsung, atau mohon ampun langsung kepada raja).

Disebut dengan istilah alun-alun, karena diwaktu siang hari disaat sinar matahari panas membakar, tempat tersebut terlihat bergetar bagai ombak mengalun (bahasa Jawa: amun-amun apindo alun). Ada juga pengertian bahwa alun-alun, dari asal kata jawa alon-alon atau berjalan lambat-lambat atau sabar.

Di area Alun-alun Utara, terdpt pasang pohon beringin kembar, antara lain:

1. Dua buah beringin kembar terletak disebelah selatan Gapura Pamurakan yang dikelilingi masing masing oleh pagar tembok dan besi berwujud segi delapan. Pohon beringin disebelah Timur dinamakan Waringin Wok (beringin perempuan), tempat istirahat para prajurit Bang Wetan; dan disebelah Barat diberi nama Waringin Godeg atau Jenggot (laki-laki), tempat istirahat para prajurid Bang Kulon.Kedua beringin tersebut merupakan simbol peringatan bahwa asal kehidupan diciptakan Allah melalui pria dan wanita (ayah dan ibu), sehingga manusia ada. Sehingga dua pohon beringin tersebut juga merupakan lambang dari kesuburan.
2. Dua pohon beringin kembar terletak tepat ditengah Alun-alun Utara, yang dikenal sebagai Waringin Kurung Sakembaran. Disebut kurung, karena masing masing pohon diberi batas berupa jeruji besi disekitarnya. Pohon beringin sebelah Timur dinamakan Kyai Jayandaru (sinar kemenangan) dan beringin disebelah Barat diberi nama Kyai Dewandaru (sinar Illahi atau sinar keluhuran). Kedua beringin ini merupakan beringin yang dibawa dari karaton lama, pada saat perpindahan karaton dari Kartosura ke Surakarta.

Ringin Kurung Sakembaran mempunyai arti simbolistis:
a. Kesempurnaan hidup yang harus dicapai manusia.
b. Kemenangan dan keluhuran.
c. Kekuasaan dan kebijaksanaan raja (hayom, hayem, dan hayu).
d. Pangayoman hukum.

Dengan kata lain, makna tersebut dapat diartikan bahwa manusia harus benar-benar sudah dapat menghilangkan atau mengekang nafsu pribadinya, sehingga dapat mencapai tingkat jaya (kemenangan dalam mencapai hidup sejati). Hal ini diyakini karena bagi manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan tersebut, dia akan selalu disinari oleh sinar Illahi (keluhuran budi pekerti).

1. Berkaitan dengan mitos Jawa, di dalam kehidupan masyarakat Surakarta tumbuh kepercayaan-keperyaan mengenai Ringin Sakembaran, antara lain:
Apabila seseorang mendapatkan daun beringin kurung sakembaran tersebut dua buah yang jatuh ke tanah, satu jatuh menghadap keatas dan satu jatuh menghadap kebawah (godong mlumah-kurep), maka benda tersebut dapat dipakai sebagai pusaka atau jimat yang membawa berkah selamat.
2. Apabila seseorang melakukan tirakat atau prihatin (meditasi) dibawah pohon beringin tersebut, atau berjalan mengelilingi sebanyak 7 kali, apa yang menjadi kehendaknya akan terkabulkan.

Dua pohon beringin kembar yang berada dibatas ruang Alun-alun Utara sebelah Selatan, pohon beringin sebelah Timur disebut Waringin Gung (tinggi), dan yang sebelah Barat disebut Waringin Binatur (pendek), yang mengandung arti simbolis bahwa Karaton Surakarta adalah duwur tan ngungkul-ngungkuli, andap tan keno kinungkulan (tinggi yang tak berlebihan, dan rendah tetapi tidak boleh ada yang meremehkan).
Baca Selanjutnya..

Minggu, Juni 21, 2009

Wisanggeni


Bambang Wisanggeni adalah nama seorang tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam wiracarita Mahabarata karena merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. Ia dikenal sebagai putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Dresanala, putri Baqtara Brahmana. Wisanggeni merupakan tokoh istimewa dalam pewayangan Jawa. Ia dikenal pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa.

Kelahiran
Kisah kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, putra Batara Batari terhadap Arjuna yang telah menikahi Dresanala. Dewasrani merengek kepada ibunya supaya memisahkan perkawinan mereka. Durga pun menghadap kepada suaminya, yaitu Batara Guru, raja para dewa.
Atas desakan Durga, Batara Guru pun memerintahkan agar Batara Brahma menceraikan Arjuna dan Dresanala. Keputusan ini ditentang olehBatara Narada selaku penasihat Batara Guru. Ia pun mengundurkan diri dan memilih membela Arjuna.
Brahma yang telah kembali ke kahyangannya segera menyuruh Arjuna pulang ke alam dunia dengan alasan Dresanala hendak Batara Guru sebagai penari di kahyangan utama. Arjuna pun menurut tanpa curiga. Setelah Arjuna pergi, Brahma pun menghajar Dresanala untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.
Dresanala pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemputnya, sementara Brahma membuang cucunya sendiri yang baru lahir itu ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa.
Narada diam-diam mengawasi semua kejadian tersebut. Ia pun membantu bayi Dresanala tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. narada memberinya nama Wisanggeni, yang bermakna "racun api". Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brahma, sang dewa penguasa api. selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh justru menghidupkan Wisanggeni.
Atas petunjuk Narada, Wisanggeni pun membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Shangyang Wenang, leluhur Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brahma akhirnya bertobat dan mengaku salah. Narada akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.
Wisanggeni kemudian datang ke Kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna supaya diakui sebagai anak. Semula Arjuna menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Wisanggeni dapat menglahkan Arjuna dan para Pandawa lainnya.
Setelah semuanya jelas, Arjuna pun berangkat menuju Kerajaan Tunggulmalaya, tempat tinggal Dewasrani. Melalui pertempuran seru, ia berhasil merebut Dresanala kembali.


Sifat dan Kesaktian
Secara fisik, Wisanggeni digambarkan sebagai pemuda yang terkesan angkuh. Namun hatinya baik dan suka menolong. Ia tidak tinggal di dunia bersama para Pandawa, melainkan berada di kahyangan Shangyang Wenang, leluhur para dewa. Dalam hal berbicara, Wisanggeni tidak pernah menggunakan bahasa krama (bahasa Jawa halus) kepada siapa pun, kecuali kepada Sanghyang Wenang.
Kesaktian Wisanggeni dikisahkan melebihi putra-putra Pandawa lainnya, misalnya Anta reja, Gatotkaca, ataupun Abimanyu. Sepupunya yang setara kesaktiannya hanya Antasena saja. Namun bedanya, Antasena bersifat polos dan lugu, sedangkan Wisanggeni cerdik dan penuh akal.

Kematian
Menjelang meletusnya perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena naik ke Kahyangan Alang-alang Kumitir meminta restu kepada Shangyang Wenang sebelum mereka bergabung di pihak Pandawa. Akan tetapi, Sanghyang Wenang telah meramalkan, pihak Pandawa justru akan mengalami kekalahan apabila Wisanggeni dan Antasena ikut bertempur.
Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan untuk tidak kembali ke perkemahan Pandawa. Keduanya rela menjadi tumbal demi kemenangan para Pandawa. Mereka pun mengheningkan cipta. Beberapa waktu kemudian keduanya pun mencapai moksa, musnah bersama jasad mereka.
Baca Selanjutnya..

Jumat, Mei 01, 2009

BARUKLINTING, RAWA PENING DI AMBARAWA



Bagi sebagian masyarakat Jawa Tengah keberadaan legenda Baru Klinting dengan Telaga Rawa Pening, tentunya sudah tak asing lagi. Legenda tersebut konon merupakan perwujudan ular besar dengan genta yang menggantung di lehernya. Kabarnya, ia muncul memberi keberuntungan saat nelayan tak mendapat ikan.

Walau tak tak ada yang tahu pasti, sejak kapan legenda itu muncul dan mengapa kawasan tersebut di sebut Rawa pening, tetap saja masyarakat setempat mengaitkan telaga seluas 2.670 Ha itu dengan kemunculan sesosok ular besar yang dianggap keramat. Masih menurut mereka, di saat-saat tertentu ular tersebut bergerak mengitari telaga untuk memberi berkah bagi orang-orang yang membutuhkan. Sampai-sampai untuk menghormati legenda tersebut, sebuah ornamen dari beton berbentuk ular besar pun di pasang di pintu masuk telaga ini.

Rawa Pening, demikian nama objek wisata itu. Rawa Pening merupakan lokasi wisata populer di Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Bukit Cinta, Kabupaten Ambarawa, berjarak 45 Km dari Semarang. Luasnya mencakup 4 wilayah kecamatan; Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Telaga ini sendiri berada di lereng Gn. Merbabu, Gn. Telomoyo dan Gn. Ungaran dengan ketinggian 461 mdpl.

Saat itu, di sebuah kesempatan kami memulainya dari Salatiga, hanya memakan waktu 10 menit berkendara. Rupanya, jarak Salatiga – Rawa Pening cuma 5 Km. Untuk sampai kesana kita akan melalui jalan yang sedikit menanjak dan berkelok-kelok. Beberapa rumah dan kebun tampak menghiasi sisi kanan dan kiri jalan. Selain itu, tak ketinggalan hawa dingin yang langsung menyergap, pertanda kita sedang berada di ketinggian.

Hari tampak mendung, saat kami tiba di objek wisata ini, pukul 8.30 pagi. Keinginan menjelajahi telaga yang luasnya mencakup 4 kecamatan ini pun sempat urung dilaksanakan. Pasalnya, tak lama berselang hujan deras turun. Jika sudah begini, jarak pandang akan terbatas akibat kabut dan penyewaan perahu tampak sepi.

Rencananya, kunjungan singkat ini untuk menikmati pesona telaga yang dianggap sakral oleh penduduk setempat, sembari melihat dari dekat penghuni kawasan yang oleh masyarakat sekitar di sebut ‘ikan wader’. Konon telur ikan ini berkhasiat sebagai obat perekat bagi tulang yang patah.

Sebuah Legenda

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sumber air telaga berasal dari luberan air bekas cabutan lidi Baru Klinting.

Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar.

Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular.

Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita tua yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula.

Akhirnya, tak dinyana tak di duga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin di tempat itu. Kalaupun ada, pasti akan di usir atau dibuat tidak nyaman dengan berbagai cara.

Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyellinap masuk. Namun apa ayal, ia pun harus rela di usir paksa karena ketahuan.

Saat tengah di seret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Sama seperti mereka. Di perlakukan begitu ia tak begitu ambil pusing. Namun amarah mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. “dasar anak setan, anak buruk rupa”, begitu maki mereka.

Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya.

Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lagi-lagi, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si bocah. “Jangan-jangan akan ada apa-apa?” pikir mereka.

Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetuan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga.

Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang.

Namun penyihir jahat, tetap tak terima, hingga di suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya.

Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul 00.00 WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya di kenal sebagai Baru Klinting.

Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling di tunggu-tunggu.

Baca Selanjutnya..

Rabu, April 29, 2009

ASAL KOTA AMBARAWA

KabarIndonesia - Pada zaman dahulu kala, di suatu wilayah di Jawa Tengah, ada sebuah desa yang dihuni oleh orang-orang yang rajin dan tekun. Mereka hidup dengan rukun dan saling membantu. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semua senang bergotong royong dalam melakukan tugas bersama.. Seperti pada suatu pagi, ada seorang penduduk yang memiliki hajat pesta syukuran. Tetangga-tetangga pun banyak datang berdatangan. Para lelaki menyumbangkan tenaga dengan membangun tenda tratag, mempersiapkan hiburan gamelan, dan sebagainya. Sedangkan kaum perempuannya pun dengan senang hati berkumpul untuk membantu mempersiapkan memasak. Mereka merencanakan untuk menyediakan makan yang lezat dan enak. Untuk itu, diperlukan berbagai macam peralatan memasak, seperti pisau, panci, dan banyak lagi. Maka para perempuan pun membawa pisau masing-masing dari rumah.

Ada seorang ibu yang sedang mengandung, yang ingin ikut membantu dalam kegiatan memasak bersama itu. Dia pun bermaksud membawa sebuah pisau dari rumahnya. Tetapi sayangnya dia tidak dapat menemukan sebuah pisau pun di dapurnrya. Maka diputuskannya untuk meminjam pisau dari suaminya. Dia bergegas menemui suaminya, meminta izin untuk meminjam pisau.

"Pak, bolehkan aku meminjam pisaumu?" tanya si istri lembut.

"Pisauku? Untuk apa, Bu?" suaminya ganti bertanya heran. "Bukankah di dapur Engkau memiliki beberapa pisau, mengapa Engkau meminjam pisauku?" sambungnya. "Aku memang memiliki beberapa pisau. Tetapi entah mengapa aku tidak bisa menemukannya barang satu pun. Aku memerlukannya untuk membantu tetangga kita, untuk memasak bersama. Boleh, ya, Pak?" kata si istri.Suaminya berpikir sejenak, menghela nafas, kemudian akhirnya berkata, "Baiklah. Engkau boleh meminjam pisauku. Tetapi ingat, Bu, jangan sekali-kali Engkau menyelipkannya di dadamu. Berbahaya. Apalagi mengingat Engkau sedang mengandung anak kita. Daripada terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, jagalah selalu pisauku ini."

Si istri mengangguk menurut. "Baik, Pak, terima kasih. Pisau ini akan kujaga, tidak akan hilang." katanya. "Kalau begitu aku berangkat dulu ke rumah tetangga, ya, Pak."

"Baik, Bu, berhati-hatilah. Sekali lagi, jangan Kausimpan pisau itu dengan cara menyelipkannya di dadamu." Si istri kembali mengangguk dan beranjak pergi menuju ke rumah tetangganya. Maka perempuan itu pun mulai memasak bersama dengan perempuan-perempuan lain. Pada waktu memasak, semuanya sibuk, dan tak ada tempat untuk menyimpan pisau. Tanpa disadari, perempuan tadi menyimpan pisau suaminya di dadanya. Rupa-rupanya dia melupakan nasihat suaminya tadi. Dan karena dirasa semuanya baik-baik saja, dan ketika kegiatan memasak sudah selesai, dia pun pulang ke rumahnya.

Beberapa bulan berlalu, tibalah waktunya bagi perempuan itu untuk melahirkan. Alangkah terkejutnya dia, ketika mendapati anaknya berwujud seekor ular! Bukan seorok bayi, melainkan binatang melata yang begitu panjang. Kedua orang tuanya segera memahami, bahwa ini adalah akibat perbuatan si istri yang menyelipkan pisau di dadanya sewaktu mengandung. Maka segera setelah kelahiran anaknya itu, mereka berdoa meminta petunjuk kepada Yang Kuasa, apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Yang Kuasa pun memberi jawaban atas pertanyaan mereka, "Pisau itu bukan pisau biasa, dan anakmu pun bukan ular biasa. Dia adalah Baruklinting, salah satu utusanku. Bawalah dia ke bukit di desa, dan biarlah dia bertapa dengan cara mengelilingi bukit itu dengan tubuhnya. Seluruh tubuhnya haruslah dapat mengelilingi bukit itu."

Maka berangkatlah Baruklinting ke bukit desa, dan mengelilingi bukit itu untuk bertapa. Walaupun bukit itu tidak begitu besar, dan tubuh Baruklinting pun cukup panjang, akan tetapi seluruh panjang tubuhnya belum mencukupi untuk mengelilingi bukit tersebut. Ujung kepalanya belum dapat bertemu dengan ujung ekornya, hanya kurang beberapa sentimeter. Tetapi Baruklinting bertekad untuk mematuhi perintah Yang Kuasa. Maka dia pun menjulurkan lidahnya, dan dengan demikian seluruh bukit itu dapat dijangkaunya.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Baruklinting bertapa selama bertahun-tahun lamanya. Kedua orang tuanya sudah meninggal, dan orang-orang yang hidup di desa pun sudah banyak yang berganti. Tanah tempatnya bertapa, bahkan tubuhnya sendiri, mulai tertutupi rumput.Suatu saat, penduduk desa itu berniat untuk mengadakan kegiatan bersih desa. Sebagai ungkapan syukur atas segala rezeki yang diterima, juga permohonan agar dijauhkan dari marabahaya, penduduk desa akan membersihkan seluruh pelosok desa. Maka setiap orang pun bergotong-royong untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ada yang menyiangi rumput, merapikan tanaman, bahkan ada yang membersihkan sungai. Ada juga beberapa warga yang sampai di kaki bukit untuk membersihkan daerah itu. Mereka bekerja dengan menggunakan celurit, parang, dan lain-lain.

Siang itu, saat melepas penat, beberapa penduduk beristirahat sambli duduk-duduk di kaki bukit. Tanpa disengaja, seseorang menancapkan parangnya ke tanah. Betapa terkejutnya dia dan penduduk desa lain, karena mendapati darah keluar dari tanah yang mereka duduki. Mereka pun segera membersihkan rerumputan yang ada, dan mereka mendapati seekor ular mengelilingi bukit tersebut.

"Kawan-kawan, marilah kita sembelih ular ini, dan dagingnya kita buat pesta untuk seluruh desa!" ajak seorang dari mereka. Semua menyetujui rencana itu. Kaum perempuan kembali disibukkan dengan kegiatan memasak bersama, sedangkan kaum laki-laki juga sibuk mempersiapkan keperluan pesta. Mereka bergotong royong bersama. Maka mereka pun menyembelih ular itu, memotong-motongnya menjadi bagian kecil-kecil untuk disantap bersama. Daging ular itu begitu besar, sehingga setiap warga desa dapat menikmati masakan daging ular tersebut.Dari sekian banyak potongan daging-daging kecil itu, tanpa disadari, ada sepotong daging yang menjelma menjadi seorang bocah laki-laki. Dialah Baruklinting, utusan Yang Kuasa, yang belum menyelesaikan pertapaannya. Dia kurus, dekil, dan penuh kudis di sekujur tubuhnya, bahkan menebarkan bau yang tidak sedap.

Kehadirannya begitu mencolok di tengah-tengah pesta desa, di mana orang-orang lain berdandan rapi dan harum. Mereka makan dan minum sepuasnya, berpesta bersama. Baruklinting mendekat ke arah penduduk desa, dan menemui beberapa orang warganya.
"Tuan, nampaknya Tuan sedang berpesta. Bolehkan saya meminta sedikit makanan?" tanyanya kepada seorang laki-laki gagah. Lelaki itu mengernyitkan dahinya, lalu menutup hidungnya karena bau yang tidak sedap dari tubuh Baruklinting. "Siapa kau?" laki-laki itu balas bertanya."Namaku Baruklinting, Tuan. Saya melihat ada banyak makanan di sini, dan saya lapar sekali, Tuan. Kasihanilah saya," katanya memelas.

"Baruklinting? Aku tidak mengenalmu. Engkau bukan penduduk desa ini. Dengan tubuh dekil, kudisan, dan bau seperti itu, Engkau tidak pantas makan bersama-sama dengan kami. Pergilah!" laki-laki itu mengusirnya.

Baruklinting kemudian mendekat kepada seorang perempuan di sana."Nyonya, bukankah Nyonya yang memasak semua makanan ini?" tanyanya lemah. Perempuan itu memandang Baruklinting dengan heran. Dia pun segera menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau tubuh Baruklinting. "Memang betul, kami kaum perempuan yang memasaknya. Kaum lelaki mendepatkan seekor ular yang besar, cukup untuk dimakan seluruh penduduk desa ini. Maka kami pun memotong-motong daging ular itu dan memasaknya" jawabnya. "Bolehkah aku minta sedikit masakan Nyonya?" tanya Baruklinting. Perempuan itu menggeleng.

"Tidak, tidak. Pergilah kau, tubuhmu kudisan dan bau. Selera makan penduduk desa ini akan hilang karenamu. Pergilah!" perempuan itu pun mengusir Baruklinting pergi.

Untuk ketiga kalinya, Baruklinting mendekat ke arah penduduk desa. Kali ini dia menuju ke seorang anak laki-laki. "Kak, bolehkah aku ikut makan bersamamu? Maukah engkau membagi sedikit makananmu untukku?" tanyanya. Anak laki-laki itu terkejut, dan langsung pergi tanpa menjawab. Dia merasa takut dan jijik melihat rupa Baruklinting. Baruklinting merasa sedih, karena penduduk desa itu tidak mau berbagi, dan hanya menilai seseorang berdasarkan penampilan luar saja. Semua hanya mementingkan pesta dan senang-senang, tanpa menghiraukan orang yang kekurangan.

Maka Baruklinting kemudian mengambil sebatang lidi dan membawanya ke tengah-tengah pesta. Orang-orang merasa heran atas tingkah lakunya. Baruklinting menancapkan lidi itu di tanah, kemudian berkata dengan lantang, "Hai kalian semua, kalian yang gagah dan pemberani, coba lihat ke sini. Aku mengadakan sayembara bagi kalian : Siapa yang bisa mencabut lidi ini, akan mendapat hadiah!" kata Baruklinting dengan entengnya. Setiap orang di situ terperangah. Mencabut sebatang lidi dari tanah, yang ditancapkan oleh seorang bocah kurus dekil, tentu bukanlah hal yang sulit. Mereka adalah orang-orang yang sehat dan berbadan tegap. Dan setiap orang menginginkan hadiah.Maka satu per satu mulai mencoba mencabut lidi kecil itu. Tetapi anehnya, tidak ada satu orang pun yang mampu melakukannya. Dari anak kecil, pemuda kekar, ibu rumah tangga, sampai kakek-kakek, semua tidak mampu mencabut lidi itu. Lidi tersebut seolah-olah memiliki akar kuat yang menancap di tanah itu.

Ketika setiap orng sudah menyerah, maka Baruklinting pun maju ke depan dan berkata "Wahai semua penduduk desa, ketahuilah, aku adalah utusan dari Yang Kuasa yang sedang bertapa di kaki bukit. Pertapaanku telah kalian ganggu. Kalian memasak dagingku untuk pesta ini. Dan yang lebih memprihatinkan, kalian tidak mau berbagi kepada sesama yang kekurangan. Seharusnya kalian malu, karena menilai anak kudisan tidak layak makan bersama, padahal dia juga ciptaan Tuhan." Setiap orang merasa sadar dan malu."Maka hari ini Yang Kuasa akan menghukum kalian."

Baruklinting mecabut lidi tersebut, dan dari lubang bekas lidi itu memancar air. Air mengalir terus-menerus, bahkan mulai membanjiri pemukiman penduduk. Mereka pun berlarian menyelamatkan diri. Tetapi terlambat, air sudah menggenangi seluruh daerah itu, menjadi sebuah rawa. Dan sejak saat itu, dari kata amba yang berarti luas, dan rawa, daerah di sekitar itu dikenal dengan nama Ambarawa. Itulah asal mula nama Kota Ambarawa, yang mengingatkan kita pada legenda Baruklinting dan nasihatnya untuk tidak membeda-bedakan sesama yang membutuhkan pertolongan. (Diceritakan kembali oleh Lucia)
Baca Selanjutnya..

Selasa, April 28, 2009

WERKUDORO


Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Harjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar. Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah. Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Dus, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, "Saya mau ke kamar kecil." Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini. Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih 'terhormat' jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu.... Sedangkan di Solo ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan serem, tapi jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa disuruh makan gelar? Begitulah dia misuh-misuh.

Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh... tapi bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Baca Selanjutnya..

Jumat, April 10, 2009

PUNOKAWAN

1. Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa)

2. Semar adalah pengasuh dari Pendawa. Alkisah, ia juga bernama Hyang Ismaya. Mekipun ia berwujud manusia jelek, ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi bahkan melebihi para dewa.

3. Gareng adalah anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkan dengan memuja. Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kadang- kadang serba salah. Tetapi ia sangat lucu dan menggelikan. Ia pernah menjadi raja di Paranggumiwang dan bernama Pandubergola. Ia diangkat sebagi raja atas nama Dewi Sumbadra. Ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk.

4. Petruk anak Semar yang bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, panda berbicara, dan juga sangat lucu. Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya. Petruk pernah menjadi raja di negeri Ngrancang Kencana dan bernama Helgeduelbek. Dikisahkan ia melarikan ajimat Kalimasada. Tak ada yang dapat mengalahkannya selain Gareng.

5. Bagong berarti bayangan Semar. Alkisah ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda pada Semar bahwa bayangannyalah yang akan menjadi temannya. Seketika itu juga bayangannya berubah wujud menjadi Bagong. Bagong itu memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh. Ia juga sangat lucu.
Baca Selanjutnya..

Selasa, April 07, 2009

TIRTA

Tirtha adalah air suci, yaitu air yang telah disucikan dengan suatu cara tertentu. Pada umumnya tirtha itu diperoleh melalui dua cara, yaitu:
1. Dengan cara memohon di hadapan palinggih Ida Bhatara melalui upacara tertentu. Tirtha yang diperoleh dengan cara ini pada umumnya disebut orang tirtha wangsuh pada atau banyun cokor
2. Dengan cara membuat (ngareka) yang dilakukan dengan mengucapkan puja-mantra tertentu, oleh beliau yang memiliki wewenang untuk itu. Tirtha yang diperoleh dengan cara ini antara lain adalah: tirtha panglukatan, tirtha prayascita, tirtha durmanggala dan sebagainya, dan juga tirtha-tirtha untuk pamuput upacara yadnya, seperti tirtha pangentas, tirtha panembak dan sebagainya.
Adapun tirtha yang digunakan setelah selesai sembahyang adalah tirtha wangsuh pada Ida Bhatara. Tirtha ini dipercikan di kepala, diminum dan dipakai mencuci muka. Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan hati orang menjadi bersih dan suci, yaitu bebas dari segala kekotoran, noda dan dosa, kecemaran dan sejenisnya. Kebersihan dan kesucian hati adalah pangkal ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan lahir bathin.
Baca Selanjutnya..

Sabtu, April 04, 2009

FENOMENA BENCANA SITU GINTUNG

Sebagaimana pada berbagai malapetaka lainnya, tragedi jebolnya tanggul situ gintung beberapa hari yang lalu mendapat perhatian yang besar dari masyarakat. Apalagi, perhatian terhadap yang aneh-aneh. Perhatiannya bisa melebihi perhatian terhadap penderitaan para korban. Ya, terkadang “perhatian” masyarakat itu sendiri terlihat aneh juga. Apa sajakah keanehan yang terkait dengan tragedi Situ Gintung ini? Berikut ini informasi-informasi paling aneh yang dapat aku himpun sejauh ini.

1. Sejak 2 tahun ini masyarakat sekitar tanggul sudah kwatir, tetapi kekawatiran ini kurang mendapat respon pemerintah.
Padahal pada Nopember 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol walau belum parah. Anehnya, Pemerintah belum berbuat secukupnya untuk mengatasinya. Bahkan early warning system (sistem peringatan dini) pun belum dibuat.

2. Dikabarkan, “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten,berhasil direkam”. Perhatikan! Merekam peristiwa yang menyedihkan ini dipandang sebagai prestasi alias kesuksesan alias keberhasilan. Aneh, ‘kan? Seandainya “jebolnya tanggul Situ Gitung berhasil dicegah”, bukankah ini yang lebih layak kita pandang sebagai keberhasilan? Mengapa tidak kita katakan saja, “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, telah direkam”?

3. Situ Gintung merupakan lokasi wisata. Anehnya, “pengunjung” justru membludak setelah tanggul itu rusak total dan tidak indah lagi. Ternyata,Lokasi jebolnya tanggul Situ Gintung jadi tontonan. Apakah tempat-tempat wisata kita perlu dirusak total supaya pengunjungnya ramai?

4. Pesan-peasn politik di Situ Gintung. Ini dia beritanya:
“Bagaimana, apa sudah ada wartawan di lokasi? Kalau sudah, sembako kita bagikan saja,” ujar seorang caleg parpol berbicara di telepon seluler.
Setelah menutup telepon, caleg itu kemudian bergegas ke lokasi bencana banjir Situ Gintung dengan dibantu beberapa kader partainya.
Pada masa kampanye seperti ini kader dan partai politik sepertinya tidak mau kehilangan momen tebar pesona, bahkan di tempat bencana sekalipun.
Dengan dalih memberi bantuan untuk korban tragedi Situ Gintung, sejumlah caleg partai politik mau repot-repot memberi langsung bantuan ke keluarga korban bencana. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan posko bantuan lengkap dengan atribut partai dan nama caleg bersangkutan.
Para caleg parpol tampaknya sudah siap dengan situasi seperti ini. Mereka datang bak pahlawan yang siap menanggung bersama kesusahan orang lain.
Mereka tidak hanya sigap mendatangi korban, tetapi juga cepat mengurusi hal-hal yang kecil. Tidak butuh waktu yang lama, spanduk besar bertulisan ”Posko Bantuan Bencana Banjir Situ Gintung, Caleg Nomor …” sudah terpampang di depan posko.

5. Ikan Patin seberat kurang lebih 45 kg yang ditemukan di dekat tanggul Situ Gintung menjadi primadona dadakan. Ikan raksasa penghuni Situ Gintung itu mungkin akan dimasak dan disantap bersama-sama. Begitulah beritanya. Kemudian, seorang pembaca berkomentar: “ itu sebenarnta Tim Sar atau nelayan ? kok malah pada cari ikan semua …..

6. Subhanallah “Masjid utuh berdiri di bencana Jebol tanggul Situ Gintung “. Ini memang bisa dipandang aneh. Namun lebih aneh lagi kalau kejadian ini dipandang sebagai mukjizat dari Tuhan bagi umat Islam. Jika utuhnya itu dianggap lantaran kesucian masjid itu, maka bukankah ada bangunan lain “yang lebih suci” daripada masjid tersebut namun beberapa kali mengalami kerusakan lantaran banjir?

7. Menurut PosKota, tragedi Situ Gintung ini terjadi karena “ Nyi Mas Melati minta tumbal “. Ini dia beritanya:
Di balik tragedi Situ Gintung yang menewaskan puluhan orang, banyak cerita misteri yang mengiringi danau seluas 21 Ha tersebut. Seminggu sebelum tanggul jebol, ada informasi kalau sang penunggu, Nyi Mas Melati menampakkan diri dengan berpakaian serba putih di tengah Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat.
Kejadian ini termasuk langka dan jarang terjadi terlebih setelah adanya ‘Pulau Bergeser’ di Situ Gintung tahun 1986. Saat itu, menurut Abah Nur, 76, tokoh masyarakat yang yang tinggal sejak tahun 1965, ada cerita munculnya ular besar yang berdiameter sebatang pohon kelapa.
“Setelah munculnya ular raksasa di tengah situ, tiba-tiba timbul gundukan tanah atau yang disebut sebagai pulau kecil di dalam Situ Gintung yang bergeser ke tengah-tengah setu. “Pulau itu terlihat saat air setu menyusut atau kering. Tapi kalau meluap tak terlihat sama sekali,” kata Abah Nur. Aroma mistik tersebut kembali muncul seminggu lalu, saat sejumlah warga yang sedang memancing sekitar Pk. 18:30 melihat munculnya sinar terang di tengah situ. Sinar itu menggambarkan wanita berparas cantik yang lebih dikenal warga sekitar sebagai Nyi Mas Melati, sang penunggu situ yang dibangun pada tahun 1933 oleh Belanda.
Anehnya, kalau memang firasat/ramalan seperti itu sudah ada sebelumnya, mengapa baru disebarluaskan setelah terjadi tragedi? Mengapa itu tidak disebarluaskan sebelumnya supaya tidak ada korban?
Baca Selanjutnya..

Kamis, Maret 19, 2009

Selasa, Maret 17, 2009

Semar, Gareng, Petruk, Bagong (PUNOKAWAN)

Hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).

Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.
Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya.

Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.
Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian.
Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras.
Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria.

Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur.

Dengan demikian jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).
Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, sama dengan 'ngelmu' sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.

Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah sukma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya sukma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.
Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.
Baca Selanjutnya..

Senin, Maret 16, 2009

Semar dan Wahyu


Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dalam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.

Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.

Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu; terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut untuk menggambarkan walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan dan kehidupan itu sendiri.

Jika dipahami hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hidup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Makna simbol yg terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.

Sebagai symbol proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu.

Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para raja, karena dapat dipastikan, bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya.

Menjadi menarik bahwa ada dua sudut pandang yang berbeda, ketika para satria raja maupun pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan wahyu.

Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana phisik untuk sebuah target. Mereka meyakini bahwa dengan memboyong Semar, wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya sang wahyu didapatkan. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sabrang, atau juga tokoh lain yang hanya menginginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapatkan wahyu, tanpa harus menjalani laku yang rumit dan berat.
Sudut pandang ke dua adalah mereka yang mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk, tinggal dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Penganut pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Saptaarga.

Dari ke dua sudut pandang itulah terjadilah konflik, dalam usahanya memperebutkan turunnya wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Saptaarga.

Mengapa wahyu selalu jatuh kepada keturunan Saptaarga? Karena keturunan Saptaarga selalu mengajarkan perilaku kebijaksanaan, semenjak Resi Manumanasa hingga sampai Harjuna. Di kalangan Saptaarga ada warisan tradisi spiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi tersebut antara lain; sikap rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur dan laku lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah, maka keturunan Saptaarga kuat diemong oleh Semar Badranaya.

Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara Illahi di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, anugerah Ilahi yang berwujud wahyu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi di balik tokoh Semar adalah Wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang tamak dan dibuka bagi orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang dilakukan keturunan Saptaarga
Baca Selanjutnya..

Minggu, Maret 15, 2009

WAHYU


Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa wahyu adalah wujud kelimpahan rahmat dan pencerahan Tuhan kepada seseorang. Sehingga orang yang mendapat wahyu atau kewahyon, dapat dikatakan hidupnya berhasil secara lahir dan batin. Dengan demikian wahyu dimaknai sebagai tanda perubahan seseorang mengarah kepada kebaikan, kesuksesan dan kemasyhuran yang berguna bagi kesejahteraan banyak orang. Perubahan tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil dari sebuah keprihatinan yang dibarengi laku batin. Pada umumnya laku batin adalah; bertapa, berpuasa, berpantang, mengurangi tidur, pergi kesuatu tempat yang dianggap sakral dan laku yang lain. Itu semua merupakan wujud kesungguhan dari usaha manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan.

Namun tidak semua orang yang menjalani laku batin tersebut ke jatuhan wahyu. Mengingat bahwa wahyu adalah anugerah dari Tuhan kepada manusia, maka tentu saja wahyu tidak dapat dikejar, apalagi dipaksa untuk jatuh dan tinggal pada orang tertentu. Karena jika yang terjadi demikian akan bertentangan dengan karakteristik wahyu, yaitu sebuah tanda perubahan yang mengarah pada hal-hal kebaikan.

Secara phisik wahyu berujud cahaya yang turun dari langit, besarnya hampir sama dengan bulan. Cahaya wahyu terjadi dari campuran sinar manik-manik emas dan salaka (logam putih), sehingga menimbulkan cahaya putih ke hijau-hijauan. Bagi masyarakat, terutama yang masih berpegang pada tradisi turun-temurun, jatuhnya sebuah wahyu yang sesungguhnya pada suatu tempat, merupakan tanda bahwa dari tempat tersebut nantinya akan muncul seorang yang sukses besar, baik dalam bidang derajat kepangkatan maupun kelimpahan harta benda, yang dapat dirasakan masyarakat luas. Biasanya Wahyu turun pada jam-jam keramat, yaitu berkisar pada pukul 03.00 dini hari.

Selain Wahyu, ada empat macam cahaya yang jatuh dari langit, masing-masing mempunyai nama dan karakteristik berbeda, yaitu:

* Andaru; berujud sinar berwarna kuning kemilau yang pinggirnya kemerah-merahan, terjadi dari campuran sinar manik-manik emas, tembaga dan timah. Seseorang yang kejatuhan Andaru, akan menjadi kaya, dengan mendapatkan kelimpahan harta benda, yang dapat menyenangkan banyak orang. Dengan demikian orang yang mendapatkan Andaru akan di sujudi orang banyak. Andaru berkarakter kebendaan, sehingga ia akan memilih seseorang yang menjalani laku batin karena keprihatinannya akan kemiskinan hidupnya.

* Pulung; cahaya yang jatuh dari langit dengan warna biru ke hijau-hijauan. cahaya tersebut terjadi dari sinar manik-manik emas dan tembaga. Seseorang yang kejatuhan Pulung hidupnya akan dipenuhi oleh belas kasihan kepada sesama, sehingga ia akan di segani dan dihormati banyak orang. Pulung berkarakter cinta kasih, sehingga jatuhnya Pulung akan memilih orang yang menjalani upaya lahir batin atas keprihatinannya mengamalkan cintakasih kepada sesama, dalam mewujudkan keindahan, ketentraman dan kedamaian dunia, Amemayu Hayuning Bawana.

* Guntur; Cahaya berwarna ungu, pinggirnya berwarna merah muda, yang terjadi dari campuran tiga sinar, yaitu tembaga, garam dan belerang. Bagi orang yang kejatuhan Guntur, hidupnya akan menjadi besar karena kebengisan dan ketamakannya. Sepak terjangnya membuat banyak orang takut dan tercekam. Guntur berkarakter angkaramurka, dan cocok bagi orang yang sedang menjalani laku dengan tujuan menjadi orang besar dan mampu memerintah dan menguasai orang banyak.

* Teluhbraja; wujudnya sinar yang jatuh dari langit dengan warna merah, pinggirnya berwarna biru. Terjadi dari campuran tiga sinar, yaitu timah, tembaga dan belerang. Seseorang yang berwatak iri hati, licik dan senang mencelakai orang lain, jika mempunyai keingingan menjadi besar dengan dibarengi laku batin, maka yang akan jatuh dan memberi tambahan daya kekuatan dalam hidupnya adalah Teluhbraja. Karena karakter Teluhbraja cocok dengan karakter orang tersebut, yaitu menimbulkan banyak orang celaka dan susah. Dipercaya, jika disuatu tempat jatuh sebuah sinar yang berwarna merah kebiru-biruan, itu namanya Teluhbraja, dan akibatnya di daerah tersebut akan timbul bencana yang menyengsarakan orang banyak.

Dapat dimaknai bahwa keprihatinan, usaha dan gerakan lahir batin seseorang, atau putaran jagad cilik , berpengaruh langsung dengan kehidupan alam semesta dan manusia diluar dirinya.

Ketika batin seseorang bergerak dengan dibarengi laku, maka akan menimbulkan energi berkekuatan magnit yang dapat menarik energi alam semesta. Semakin berat laku batin seseorang, semakin cepat putaran yang digerakan dan akan semakin kuat daya magnetisnya dalam menyedot energi alam semesta.

Jika yang digerakan mengandung energi kebaikan dan keluhuran, maka yang masuk dinamakan Wahyu. Jika yang digerakan berupa energi cinta dan belas kasihan, maka energi yang masuk dinamakan Pulung. Demikian pula jika yang digerakan adalah energi derajat dan pangkat, maka yang singgah dan masuk didalamnya dinamakan Andaru. Sedangkan Teluhbraja dan Guntur akan memberi energi kepada orang yang menggerakan energi angkaramurka dan ketamakan.

Saat bersatunya energi seseorang dengan energi alam semesta itulah yang ditandai dengan jatuhnya sebuah sinar. Dengan mengenali ciri-cirinya dari masing-masing sinar yang jatuh disuatu tempat pada dini hari, apakah itu sinar Wahyu, Andaru, Pulung, Teluhbraja dan Guntur, paling tidak orang akan mampu menangkap pertanda alam untuk meprediksi apa yang akan terjadi. Dan itu merupakan awal dari sebuah peringatan bagi orang yang berada disekitarnya, agar siap dan waspada menghadapi perubahan seseorang entah baik atau buruk, yang akan berdampak langsung secara luas.
Baca Selanjutnya..

Jumat, Maret 13, 2009

CANDI BOROBUDUR



Baca Selanjutnya..

Semar


Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu

1. Batara Semar.
2. Batara Ismaya.
3. Batara Iswara.
4. Batara Samara.
5. Sanghyang Jagad Wungku.
6. Sanghyang Jatiwasesa.
7. Sanghyang Suryakanta.

Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia. Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak yaitu:

1. Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan.
2. Batara Siwah.
3. Batara Wrahaspati.
4. Batara Yamadipati.
5. Batara Surya.
6. Batara Candra.
7. Batara Kwera.
8. Batara Tamburu.
9. Batara Kamajaya.
10. Dewi Sarmanasiti.

Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.
Baca Selanjutnya..

Rabu, Maret 11, 2009

Minggu, Maret 08, 2009

Misteri Susah Jodoh

Tubuhnya cukup berisi, supel dan simpatik. Ia pun bekerja di sebuah perusahaan ternama. Pertanyaan yang muncul kemudian, adakah sesuatu yang bersifat adikodrati yang melatarbelakangi nasib buruknya itu, misalnya ditaleni, dibuntu, karma dan lain-lainnya. Mungkin yang lebih unik untuk ditelisik, rata-rata sangkal jodoh itu diderita oleh wanita.

Menurut orang-orang tua dulu, masalah jodoh adalah rahasia Tuhan. Jodoh dianggap sebagai rahasia terbesar alam semesta, selain kematian. Sehingga tidak satu pun makhluk yang mampu mengungkapkannya. Tak heran, banyak orang yang dibuat penasaran dengan masalah jodoh ini.

Jika seorang gadis tak kunjung menemukan jodoh memang banyak sebabnya. Adapun, sebab utama yang terbesar pada umumnya berasal dari dalam diri yang bersangkutan. Biasanya dalam drinya sedang terjangkiti sengkala.

“Bila si gadis sudah ngebet nikah, tetapi tak kunjung menemukan jodohnya, bisa jadi karena ada sengkala dalam dirinya. Sengkala inilah yang menghalanginya untuk mendapatkan jodoh. “Sengkala ini tidak kasat mata. Akibatnya bisa nyata. Misalnya, lelaki tidak mau mendekatinya, karena wajahnya berubah tua atau tidak menarik. Umumnya yang mengalami sengkala ini memang para gadis.

Melecehkan Orang Yang Naksir

Menurutnya, sengkala atau problem gaib itu bisa disebabkan beberapa hal. Di antaranya, karena orang yang bersangkutan mendapatkan bumerang dari perbuatannya sendiri di masa lampau. Artinya, dulunya ia pernah menanam angin dan kini sedang menuai badai. Bisa dikarenakan, ia pernah melecehkan orang yang naksir kepadanya atau ia menolak cinta orang tersebut, hingga menyakiti hatinya.

Banyak yang dikarenakan jodohnya ditaleni atau dibuntu lelaki. Kasusnya hampir seragam, dulunya ia menolak cinta, dengan cara menyakitkan hati, sehingga meninggalkan dendam. Pada akhirnya, ia pun pun ditaleni jodohnya.

Sebab lainnya, adalah sengkala karena karma. Artinya, perempuan bersangkutan mendapatkan imbas dari perbuatan orang-orang terdahulu, termasuk ayah, ibu atau orang-orang yang menurunkan darah kepadanya. Apa yang diperbuat moyangnya itu menurun pada dirinya, sehingga mengakibatkan ia sangkal jodoh.

“Adapula yang karena perbuatan orang tua mereka sehingga mereka sangkal jodoh. Jika asalnya ketika berusia 23 tahun sudah memiliki jodoh, tetapi karena adanya sukerta itu, hingga usia 30 tahun lebih belum mendapatkannya.

Cara untuk menyingkirkan sengkala jodoh itu cukup banyak. Salah satunya dengan diruwat, atau dengan menjalankan sebuah ritual yang diperuntukan untuk ngudari sengkala yang sedang merundung orang yang bersangkutan. Biasanya, setelah dilakukan semacam ruwatan atau ritual, orang bersangkutan akan mendapatkan jodohnya.

Banyak sekali cara untuk menutup jodoh orang. Hampir semua orang mengenal cara ini. Cara ini bisa dikatakan sebagai sihir. Biasanya, dilakukan oleh orang-orang yang menaruh dendam, karena cintanya ditolak atau karena lamarannya ditolak. Orang yang melakukannya memang keji.
Baca Selanjutnya..

Jumat, Maret 06, 2009

Penemuan Formalin

Misteri Batu Malinkundang Terpecahkan!!! Para ilmuwan di Univeritas Oxford baru-baru ini telah memecahkan misteri batu Malinkundang di tanah Minang. Sekian lama batu yg menyerupai sosok tokoh Malinkundang tersebut, dalam cerita rakyat Minang, diyakini hanya merupakan cerita legenda belaka.

Namun para ahli sekarang telah mengetahui bhw batu tsb diawetkan dengan formula canggih - khas resep indonesia- yg kehebatannya melebihi ramuan para Mummi dari Mesir. Formula rahasia Malinkundang terkuak setelah ditemukan sisa-sia cairan yang terdapat pada botol, terkubur secara aman, tak jauh dari batu Malinkundang.

Pada label botol tersebut tertulis dengan jelas ” FOR: Malin” yg artinya ” untuk Malin”. Penduduk sektarnya - dan rakyat Indonesia pada umumnya - biasa menyebut “formalin” yaitu sebuah resep rahasia nenek moyang yg biasa digunakan utk mengawetkan mayat.
Baca Selanjutnya..

Kamis, Maret 05, 2009

SANGKURIANG

Diceritakan Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun “CARIANG” (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG. Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah TIMUR akhirnya sampailah di arah BARAT lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL. Rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi Gunung BURANGRANG. Dengan bantuan para GURIANG, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (Ngahiyang).
Baca Selanjutnya..

Selasa, Maret 03, 2009

Bocah 10 Tahun Akan Hentikan Lumpur Lapindo

Jika dilihat sekilas, tidak ada yang istimewa dari seorang Mohammad Ponari, 10, warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh. Ia adalah bocah kelas 3 SD dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya, Kasim, 38, dan Mukaromah, 28, hanya bekerja sebagai buruh tani. Ponari mendadak jadi pusat perhatian. Setiap hari, ratusan warga terus berdatangan ke rumah bambu milik orang tuanya. Usut punya usut, beredar kabar bahwa Ponari mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Cara pengobatannya pun cukup unik. Pasien cukup meminum air putih dari rendaman sebuah batu merah pipih sebesar kepalan tangan. Praktis, batu yang ditemukan secara tidak sengaja itu dipercaya sebagai batu bertuah.
Awal penemuan batu pipih berwarna kemerahan itu terjadi sekitar sepekan lalu. Kala itu, hujan lebat mengguyur Kecamatan Megaluh dan sekitarnya. Sebagaimana bocah sebayanya, Ponari pun bermain hujan-hujanan bersama beberapa temannya. Ponari menuturkan, saat itu ada suara petir yang menggelegar. Pada saat bersamaan, kepalanya seperti ditimpuk batu. Batu kemerahan itu lalu jatuh di dekat kakinya. Siswa kelas III SD ini lalu membawa batu yang dianggapnya unik tersebut. ”Saat mengetahui bahwa batu ini yang mengenai kepala saya, batu itu langsung saya bawa pulang..
Sesampainya di rumah, Ponari langsung bercerita kepada ibunya, Mukaromah, soal batu yang telah menghantam kepalanya itu. Oleh Mbok Legi, nenek Ponari yang kebetulan mendengar cerita itu, batu tersebut langsung dibuang. Karena Mbok Legi menganggap batu itu jelmaan dari petir. ”Batu itu langsung dibuang oleh neneknya Ari (panggilan Ponari), karena dianggap sebagai watu gludhuk.
Namun saat dibuang, keanehan mulai muncul. Awalnya si nenek bermaksud membuang batu tersebut di barongan (kebun bambu) yang berjarak sekitar 100 meter di belakang rumah mereka. Namun saat si nenek belum kembali ke rumah, batu itu sudah kembali lagi ke ruang tamu dimana Ponari sedang duduk. Bahkan –entah benar atau tidak– setelah dibuang berkali-kali,batu itu tetap saja kembali ke tempat Ponari berada. Akhirnya keluarga Ponari pun membiarkan batu itu. Baru beberapa hari kemudian, ada salah satu tetangga mereka, Imam, yang mengalami sakit panas dan muntah-muntah. Tanpa disuruh, Ponari membawa batu itu dan dimasukkan ke dalam segelas air putih. Airnya lalu diminumkan pada si sakit. ”Selang beberapa jam kemudian, dia langsung sembuh total.
Kabar inilah yang kemudian tersebar dengan cepat dan didengar oleh warga sekitar. Alhasil, mereka pun berbondong-bondong datang ke rumah Ponari, untuk meminta kesembuhan lewat ”batu bertuah”, Ponari tidak begitu saja mau melayani pasien. Jika mood- nya sedang jelek, Ponari enggan mengobati pasien dan memilih bermain dengan teman-teman sebayanya. Namun di balik itu, sudah ada ratusan warga yang datang berbondong-bondong ke rumah Ponari. Bahkan muncul pengakuan yang cukup menarik dari Ponari. Suatu saat, ia pernah minta kepada orang tuanya untuk diantarkan ke kawasan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Ia mendadak mengaku bisa menghentikan semburan lumpur yang sudah menenggelamkan beberapa desa itu. Caranya, dengan melemparkan batu itu ke arah semburan lumpur. Namun syaratnya, Ponari harus diantar orang-orang tertentu. Salah satunya adalah tetangga dekat mereka, Sumarni, yang pernah disembuhkan Ponari. ”Saya tidak tahu kenapa Ponari meminta saya agar suatu saat diantar ke lumpur Lapindo.
Manariknya Ponari sendiri tidak mau menerima uang dari hasil prakteknya. Entah apa alasannya, Ponari selalu menolak saat disodori uang oleh para pasien. Bahkan Ponari pernah marah dan ngambek tidak mau melayani pasien, saat ada orang yang memaksa memberinya uang untuk sekedar balas jasa. Kendati demikian, membludaknya pasien yang berobat ke Ponari tetap menjadi berkah bagi warga setempat. Di pintu masuk Dusun langsung disediakan kotak amal serta parkiran yang dikelola warga. Sedianya uang hasil parkiran dan kotak amal tersebut akan digunakan untuk membantu perekonomian keluarga Ponari, serta pembangunan jalan masuk dan masjid Dusun setempat.
Baca Selanjutnya..

Keindahan dan Mitos Pantai Parangtritis

Di pesisir selatan Yogyakarta, terdapat sekitar 13 obyek pantai yang memiliki pesona wisata, ternyata Pantai Parangtritis yang selalu menempati peringkat teratas dalam angka kunjungan wisata, dibanding pantai-pantai lainnya. Pantai yang Berlokasi sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta ini, dapat dicapai melalui desa Kretek atau rute yang lebih panjang, tetapi pemandangannya lebih indah yaitu melalui Imogiri dan desa Siluk.

Pantai yang termasuk wilayah Bantul ini merupakan pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Di kawasan ini wisatawan dapat berkeliling pantai menggunakan bendi dan kuda yang disewakan dan dikemudikan oleh penduduk setempat. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta.

Pada musim kemarau, angin bertiup kencang seperti tak mau kalah dengan deburan ombak yang rata-rata setinggi 2-3 meter. Sering terdengar kabar ada pengunjung pantai selatan hilang terseret gelombang. Anehnya, jenazah pengunjung yang nahas itu, menghilang bagaikan ditelan bumi. Tim SAR rata-rata baru bisa menemukan jenazahnya 2-3 hari kemudian setelah melakukan penyisiran. Biasanya, lokasi penemuan mayat tidak pada area di mana pengunjung tersebut tertelan ombak. Mayat ditemukan ratusan meter, bahkan kadang beberapa kilometer dari lokasi semula.
Di kalangan masyarakat setempat, kejadian misterius semacam itu, semakin menguatkan mitos bahwa penguasa laut yang lazim disebut Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan), suka "melenyapkan" orang yang tidak mengindahkan kaidah alam. Dari sisi ilmiah, kejadian semacam itu makin menguatkan teori bahwa palung laut selatan Jawa memang sarat arus bawah yang terus bergerak. Benda apa saja yang terseret ombak dari bibir pantai, terseret ke bawah dan terdampar pada lokasi berbeda.
Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro Kidul juga dengan sendirinya melahirkan pesona tersendiri. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua-tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Intinya, nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit.
Baca Selanjutnya..